23 Oktober 2017

RSS Facebook Twitter

Radio Republik Indonesia, secara resmi didirikan pada tanggal 11 September 1945, oleh para tokoh yang sebelumnya aktif mengoperasikan beberapa stasiun radio Jepang di 6 kota. Rapat utusan 6 radio di rumah Adang Kadarusman Jalan Menteng Dalam Jakarta menghasilkan keputusan mendirikan Radio Republik Indonesia dengan memilih Dokter Abdulrahman Saleh sebagai pemimpin umum RRI yang pertama. 

Rapat tersebut juga menghasilkan suatu deklarasi yang terkenal dengan sebutan Piagam 11 September 1945, yang berisi 3 butir komitmen tugas dan fungsi RRI yang kemudian dikenal dengan Tri Prasetya RRI. Butir Tri Prasetya yang ketiga merefleksikan komitmen RRI untuk bersikap netral tidak memihak kepada salah satu aliran / keyakinan partai atau golongan. Hal ini memberikan dorongan serta semangat kepada broadcaster RRI pada era Reformasi untuk menjadikan RRI sebagai lembaga penyiaran publik yang independen, netral dan mandiri serta senantiasa berorientasi kepada kepentingan masyarakat. 

Likuidasi Departemen Penerangan oleh Pemerintah Presiden Abdurahman Wahid dijadikan momentum dari sebuah proses perubahan Government Owned Radio ke arah Public Service Boradcasting dengan didasari Peraturan Pemerintah Nomor 37 tahun 2000 yang ditandatangani Presiden RI tanggal 7 Juni 2000. Pembenahan organisasi dan manajemen dilakukan seiring dengan upaya penyamaan visi (shared vision) dikalangan pegawai RRI yang berjumlah sekitar 8500 orang yang semula berorientasi sebagai pemerintah yang melaksanakan tugas-tugas yang cenderung birokratis.
Besarnya tugas dan fungsi RRI yang diberikan oleh negara melalui UU No.32 tahun 2002 tentang penyiaran, PP 11 tahun 20005 tentang Lembaga Penyiaran Publik serta PP 12 tahun 2005, RRI dikukuhkan sebagai satu-satunya lembaga penyiaran yang dapat berjaringan secara nasional dan dapat bekerjasama dengan lembaga penyiaran asing. RRI adalah satu-satunya radio yang menyandang nama negara yang siarannya ditujukan untuk kepentingan bangsa dan negara.
RRI sebagai Lembaga Penyiaran Publik yang independen, netral dan tidak komersial yang berfungsi memberikan pelayanan siaran informasi, pendidikan, hiburan yang sehat, kontrol sosial, serta menjaga citra positif bangsa di dunia internasional. Di Tahun 2012, LPP RRI memiliki kekuatan  62 stasiun penyiaran termasuk Siaran Luar Negeri dan 5 (lima) satuan kerja (satker) lainnya yaitu Pusat Pemberitaan, Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbangdiklat),  Satuan Pengawasan Intern (SPI) serta diperkuat 16 studio produksi serta 11 perwakilan RRI di Luar negeri.
LPP RRI memiliki 61 (enampuluh satu) Programa 1 - 61 Programa 2 -  61 Programa 3 -  14 Programa 4 dan 7 studio produksi maka RRI setara dengan 205 stasiun radio. Di RRI Bogor  terdapat 2 programa yaitu Programa I untuk pendengar dewasa di wilayah Kota dan Kabupaten Bogor sebagai Pusat Pemberdayaan Masyarakat  dan Programa II untuk segment pendengar remaja dan pemuda sebagai Pusat Kretivitas Anak Muda.
LPP RRI sebagai Lembaga Penyiaran Publik yang independen, netral dan tidak komersial,  berfungsi memberikan pelayanan siaran informasi, pendidikan, hiburan yang sehat, kontrol sosial, serta menjaga citra positif bangsa di dunia internasional. Persaingan media massa yang semakin ketat mengharuskan Lembaga Penyiaran Publik RRI dapat menjalankan peran dan fungsinya secara baik, seiring, selaras dan sejalan tuntutan dan harapan masyarakat. Peningkatan kinerja secara komprehensif pada semua bidang tugas akan menghasilkan produktivitas yang tinggi. Membangun produktivitas kerja yang tinggi melalui peningkatan kinerja dilakukan dalam upaya mewujudkan visi RRI yaitu  :
 

“Mewujudkan Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia Sebagai Radio Berjaringan Terluas, Pembangun Karakter Bangsa, Berkelas Dunia”