14 Desember 2018

RSS Facebook Twitter

Redaksi

Redaksi

Banda Aceh - Ketua bidang Pendidikan PWI Pusat Marah Sakti Siregar mengungkapkan, setelah dinyatakan berkompeten, seorang wartawan maka ia akan memasuki babak baru dalam era baru sebagai wartawan yang berkualitas dan profesional. Dengan semakin berkualitas dan berkompetennya seorang wartawan, maka secara sendirinya akan membawa perubahan bagi banyak pihak, selain terhadap wartawan itu sendiri maupun kepada pihak lain, termasuk pemerintah. “Jika wartawan berkualitas, maka bisa membawa perubahan bagi pemerintahan yang berkualitas pula,”ujar Marah Sakti Siregar saat menutup pelaksanaan Uji Kompetensi Wartawan (UKW) PWI Aceh 2013 di sebuah hotel di Banda Aceh, Kamis (9/5/2013).

Dikatakan, ditengah pesatnya perkembangan informasi dan teknologi dewasa ini, kualitas dan profesionalisme seorang wartawan semakin dituntut. Bila masih ada wartawan yang tidak berkualitas dan berkompeten, maka dia (wartawan-red) akan tetap menjadi kuli. “Aceh sekarang ini, kata Marah Sakti, dengan pemerintahan baru yang bertekad untuk mensejahterakan masyarakatnya, maka peran wartawan sangat dibutuhkan, terutama dalam hal mengawasi laju pertumbuhan pembangunan itu bisa tepat sasaran,” ujarnya. Jika wartawan menemukan hal-hal yang menyimpang, wartawan bisa memainkan perannya sebagai sosial kontrol untuk menyuarakan ketidakbenaran tersebut. Hal itu bisa dilakukan dengan berbagai cara. ”Salah satunya dengan melakukan investigasi sehingga hasilnya yang disajikan kepada masyarakat lebih lengkap, detil dan masyarakatpun tercerdaskan,”pungkas Marah Sakti.

Sementara itu, Ketua PWI Aceh Tarmilin Usman mengatakan, pihaknya akan memblacklist para wartawan yang sudah mendaftar ikut UKW 2013 ini, namun tidak ikut pelaksanaannya tanpa alasan yang jelas. Tetapi bagi wartawan yang memang benar-benar berhalangan, akan dipertimbangkan kembali untuk bisa ikut pada pelaksanaan UKW akan yang akan dilaksanakan pada akhir tahun ini. “Kita memblacklist wartawan yang tak ikut UKW tanpa keterangan untuk ikut pada UKW berikutnya,”tegas Tarmilin sambil menambahkan, PWI Aceh berencana akhir tahun ini akan menggelar UKW ke 3 sekaligus pembukaan Sekolah Jurnalistik Indonesia (SJI) PWI Aceh.

Dikatakan, dari 42 wartawan yang mendaftar, hanya 27 orang yang berani ikut, selebihnya berhalangan karena berbagai hal, dan sebagian besarnya tanpa kabar apapun. Padahal, UKW yang dilaksanakan ini merupakan subsidi dari PWI, peserta tak dipungut biaya sepeserpun. Disamping itu, Tarmilin juga menegaskan, PWI juga tidak segan-segan merekomendasi kepada dewan pers dan PWI Pusat, jika ada wartawan yang sudah berkompeten, ternyata sikap di lapangannya tidak berkompeten dan berkualitas, akan dicabut kartu kompetennya.

Sementara itu, Ketua Panitia UKW PWI Aceh, Iranda Novandi mengungkapkan, dari 42 peserta yang mendaftar hanya  27 orang yang ikut UKW PWI Aceh 2013, sebanyak 24 orang dinyatakan berkompeten (lulus UKW), sedangkan tiga lain masih belum berkompeten. Mereka yang belum berkompeten ini dari jenjang wartawan madya. “Dengan lulus berkompetenya 24 wartawan PWI Aceh ini, berarti sudah 55 wartawan anggota PWI Aceh berkompten. Sebelumnya, tahun lalu 31 orang dinyatakan berkompeten,” tutup Iranda./KBRN/wl

Yogyakarta - Pemanfaatan teknologi baru seperti twitter dan facebook dalam pengembangan suatu media merupakan sesuatu keniscayaan. Karena itulah, penting bagi media massa, terutama RRI untuk memanfaatkan facebook dan twitter. Anggota Dewan Pengawas LPP RRI, Dwi Hernuning, yang biasa disapa Nuning mengatakan, secara kebijakan RRI sudah memberikan peluang untuk pengembangan kreatifitas. Menurutnya, facebook dan twitter bisa mendulang suara dan menggaet pendengar maupun pembaca berita website RRI. “Sekarang adanya tantangan pemberitaan. Secara kebijakan kita sudah ada peluang untuk membuka kreatifitas. Facebook dan twitter itu bisa mendulang suara, dan mendulang pendengar. Itu perlu adanya sinergi yang baik antara teresterial dan RRI Online,” kata Nuning, dalam Lokakarya Mobile Journalism, Rabu (8/5/2013), di Hotel Puri Artha, Yogyakarta.

Dikatakannya, lompatan masyarakat dalam melihat perkembangan teknologi baru semakin cepat. Karena itulah, ucapnya, program RRI harus bisa lebih cepat dalam bergerak, dan pemanfaatan teknologi baru guna mengikuti kemajuan teknologi. “Sekarang teknologi itu membuat kerja kita lebih mudah, dan tidak ada alasan lagi bahwasanya teknologi tak bisa dimanfaatkan. Karena itulah, dalam hal ini penggunaan twitter dan facebook bagi RRI merupakan sesuatu keniscayaan. Dengan adanya facebook dan twitter itu pastinya akan dapat menjalin interaksi dengan pendengar ataupun pembaca,” tuturnya.

Ditegaskannya, dalam membuat kebijakan itu perlu mengikuti perkembangan teknologi, sistem sosial di masyarakat dan mengikuti perkembangan ekonomi. “Penting bagi pembuat program adalah pertimbangan sosial dan politik di suatu daerah.  Kalau menggunakan mobile itu tentu akan sangat efektif, dan meningkatkan SDM yang kreatif dalam mengembangkan program,” pungkasnya./KBRN/wl

Jakarta -  Densus 88 /A ntit Teror menggerebek kelompok teroris di wilayah Kopo, Kabupaten Bandung. Penangkapan bermula dari tertangkapnya salah seorang teroris William Maksum di kawasan Cipacing, Jatinangor.  Berikut kronologi pengungkapan teroris di Bandung, seperti disampaikan Kabagpenum Polri Kombes Agus Rianto di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jaksel, Rabu (8/5/2013):

7 Mei 2013 Pukul 15.30 WIB
Densus 88/Antiteror menangkap William Maksum alias Acum alias Dadan di Cipacing, Jatinangor. Dari William, diperoleh barang bukti berupa satu pucuk pistol  browning rakitan, 1 magazen, amunisi kaliber 38 spesial 200 buah, amunisi 9 milimeter 80 butir, uang tunai Rp 6 juta, pisau, kamera, modem dan ponsel dua unit.

8 Mei 2013 Pukul 11.00 WIB
Tim Densus 88/Antiteror melakukan pengembangan ke Kampung Batu Rengat Hilir, Cigondewah, Margaasih, Kabupaten Bandung. Di lokasi tersebut, sekelompok teroris mengontrak di rumah milik Haji Anda Sukanda. Upaya penangkapan di Cigondewah ini mendapatkan perlawanan kontak tembak. Baku tembak pun berlangsung selama berjam-jam. 


Pukul 18.10 WIB
Tim menyerbu ke kontrakan tersebut. Sambil mengumbar tembakan dan melempar bahan peledak, para teroris pun berhasil dilumpuhkan. Ada tiga orang anggota teroris yang tewas.

 

Usai peistiwa penggerebekan tersebut, Kapolri Jenderal Timur Pradopo di lokasi penggerebekan teroris di Bandung, RT 2/RW 8 Batu Rengat, Cigondewah Hilir, Marga Asih, Rabu (8/5/2013) malam. memberikan keterangan bahwa beberapa waktu ini polisi menggelar operasi serentak untuk menangkap terduga teroris. Selain di Bandung, mereka menyergap sejumlah orang di 3 daerah di Jateng. "Ada beberapa kelompok. Hari ini, selain di Bandung, kita operasi di Kendal, Batang, dan Kebumen," kata Kapolri.

Timur memberikan keterangan didampingi Wakapolri Komjen Nanan Sukarna, Kabareskrim Komjen Sutarman, Kapolda Jabar Irjen Tubagus Anis. "Yang di Kebumen masih dalam negosiasi hingga saat ini," ungkapnya. Operasi penggerebekan teroris dilakukan setelah polisi mengembangkan kasus teror di berbagai wilayah seperti di Poso, Makassar, Solo, Jakarta (Tambora), Depok, dan Bekasi. "Jadi semua itu rangkaian dari operasi sebelumnya," tuturnya .KBRN/wl

Yogyakarta - Tantangan terbesar bagi media massa, termasuk radio adalah bagaimana bisa memperkuat dengan penggunaan teknologi baru. Salah satu teknologi baru yang digunakan dalam era baru media adalah facebook dan twitter. Saat ini masyarakat menyimpan radio di saku-saku mereka, dan penting bagi media radio untuk mengikuti perkembangan era media baru tersebut. “Tantangan besar bagi radio, dan tantangan itu perlu radio diperkuat lagi. Justru pembaharuan pada radio itu dengan menggunakan teknologi baru, dan bentuknya justru bisa ditaruh di saku. Dan waktu itu orang-orang menaruh radio di saku-sakunya. Radio mengikuti perkembangan yang berkelanjutan,” kata Ahern Media & Training Pty Ltd, Steve Ahern dalam “Lokakarya Mobile Journalism” di Yogyakarta, 7-9 Mei 2013, yang diikuti sejumlah wartawan dari RRI.

Menurut Steve, konsekwensi media ataupun radio yang tidak menggunakan twitter dan facebook tidak akan membuat media tersebut gulung tikar. Namun yang pasti, kata Steve, pengelola radio harus sadar bahwasanya pelan-pelan bila media tak menggunakan sosial media seperti facebook dan twitter, maka radio tersebut akan ditinggalkan pendengarnya. “Konsekwensinya tidak besar tidak akan membuat anda gulung tikar. Akan tetapi Anda harus sadar bahwa pelan-pelan para pendengar Anda akan meninggalkan dan menjauh. Sebab mereka akan lebih bisa berinteraksi dekat dengan radio yang menggunakan sarana seperti twitter dan facebook. Menjelang 2020 akan terjadi 50 miliar sarana di seluruh dunia terkoneksi,” ungkap Steve.

Radio, jelasnya, mempunyai kompetitor yang lebih kuat, yakni televisi yang menggunakan penonton yang loyal. Misalnya dengan penggemar musik pop. “Kalau Anda benar-benar mempelajari sejarah. Anda akan mampu memperkirakan di masa depan.  Sekarang itu kita ada era, itu semua teknologi bisa digunakan. Itu era konvergensi. Dan itu kemudian mendorong menggunakan sarana yang baru, yang menggunakan teknologi yang baru,” tuturnya.

Twitter itu, katanya, sama seperti radio dan facebook itu bisa diperumpamakan seperti tayangan acara interaktif. “Di facebook itu bisa membicarakan apa yang orang lain bicarakan. Tolong bandingkan twitter dan facebook, dibandingkan dengan perkembangan topik ini,” terangnya.

Dikatakan Steve, penggunaan sosial media akan semakin besar. Ia menyarankan agar dalam mengirimkan status dalam twitter dan facebook itu Anda tidak boleh bersikap bodoh. “Jangan tampak bodoh. Twitter dan facebook itu tempat publik dan permanen.” Selain itu, katanya, jangan pernah menulis di facebook dan twitter seperti apa yang Anda tidak akan tulis di berita media Anda, terlebih bila sebutkan website Anda di RRI.

Korlip RRI Online, Yopi Yacob  berharap lokakarya mobile journalism dapat memberikan nilai tambah bagi wartawan RRI yang selama ini hanya menggunakan media audio. Ia mengungkapkan bahwa lokakarya ini akan memberikan warna baru bagi wartawan RRI terkait penggunaan sosial media disatukan dengan media radio.

“Selama ini bekerja di radio, dan bagi  ketika mengelolah website rri.co.id awalnya berpikir mustahil. Namun dengan adanya pelatihan ini para jurnalis RRI akan dapat menerapkan perangkat laptop, smartphone yang dapat mendukung pelaporan ataupun penulisan berita. Selain itu ilmu bagi reporter yakni mengetahui cara menggambil gambar, mengedit dan audio serta pengetahuan tentang sosial media,” tutur Yopi.

Salah satu wartawan RRI Solo, Ciptaning Hamdayani menuturkan, penggunaan facebook dan twitter mutlak dibutuhkan bagi jurnalis untuk menginformasikan kepada masyarakat, terutama di era konvergensi media. “Baik itu media sosial dan media online memang sudah saatnya untuk dikembangkan bagi semua media massa, termasuk RRI,” pungkasnya./KBRN/wl

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL