22 November 2017

RSS Facebook Twitter

Redaksi

Redaksi

Bogor : Kualitas hasil pengerjaan Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) Cibuluh di Kelurahan Tanah Baru, Kecamatan Bogor Utara, Kota Bogor yang dikerjakan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat sangat buruk dan  tidak layak huni. Hal ini terungkap saat Walikota Bogor, Bima Arya melakukan inspeksi mendadak (sidak) meninjau kondisi rusunawa tersebut, Jumat (29/9).

Bima Arya mengaku kecewa dengan kondisi rusunawa yang dinilainya tidak layak huni sehingga pihaknya enggan melakukan proses serah terima proyek itu. "Saya kecewa melihat kualitas hasil pengerjaan sangat buruk. Dengan kondisi yang ada,  rusunawa ini tidak layak huni. Kita juga tidak mau melakukan proses serah terima jika kondisinya seperti itu,” kata Bima yang saat melakukan sidak didampingi Kepala Dinas Perumahan dan Pemukiman (Disperumkim) Kota Bogor Boris Derurasman dan Camat Bogor Utara Atep Budiman.
Walikota Bogor  Bima meminta kepada pihak Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat agar kondisi yang ada diperbaiki dan lebih dioptimalisasikan lagi, sehingga nantinya layak untuk ditempati dan selanjutnya pihaknya akan mempercepat koordinasi terhadap berbagai hal  menjadi tanggung jawab Pemerintah Kota Bogor, yaitu pengerjaan akses jalan dan pembuatan sodetan untuk mencegah banjir. “Langkah selanjutnya yang akan diambil adalah mempercepat koordinasi apa yang menjadi tanggung jawab Pemerintah Kota Bogor, yaitu pengerjaan akses jalan dan pembuatan sodetan untuk mencegah banjir,” ungkap Bima. Dalam kesempatan sidak itu, Bima Arya juga  secara tegas meminta agar di proyek rusunawa tersebut dipasang papan informasi pembangunan, sehingga jelas kegiatannya, tujuannya, nilai dan sumber pembiayaan pembiayaan proyek tersebut.
Sumber : Humas Pemkot Bogor

Bogor : Kualitas hasil pengerjaan Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) Cibuluh di Kelurahan Tanah Baru, Kecamatan Bogor Utara, Kota Bogor yang dikerjakan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat sangat buruk dan  tidak layak huni. Hal ini terungkap saat Walikota Bogor, Bima Arya melakukan inspeksi mendadak (sidak) meninjau kondisi rusunawa tersebut, Jumat (29/9).

Bima Arya mengaku kecewa dengan kondisi rusunawa yang dinilainya tidak layak huni sehingga pihaknya enggan melakukan proses serah terima proyek itu. "Saya kecewa melihat kualitas hasil pengerjaan sangat buruk. Dengan kondisi yang ada,  rusunawa ini tidak layak huni. Kita juga tidak mau melakukan proses serah terima jika kondisinya seperti itu,” kata Bima yang saat melakukan sidak didampingi Kepala Dinas Perumahan dan Pemukiman (Disperumkim) Kota Bogor Boris Derurasman dan Camat Bogor Utara Atep Budiman.
Walikota Bogor  Bima meminta kepada pihak Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat agar kondisi yang ada diperbaiki dan lebih dioptimalisasikan lagi, sehingga nantinya layak untuk ditempati dan selanjutnya pihaknya akan mempercepat koordinasi terhadap berbagai hal  menjadi tanggung jawab Pemerintah Kota Bogor, yaitu pengerjaan akses jalan dan pembuatan sodetan untuk mencegah banjir. “Langkah selanjutnya yang akan diambil adalah mempercepat koordinasi apa yang menjadi tanggung jawab Pemerintah Kota Bogor, yaitu pengerjaan akses jalan dan pembuatan sodetan untuk mencegah banjir,” ungkap Bima. Dalam kesempatan sidak itu, Bima Arya juga  secara tegas meminta agar di proyek rusunawa tersebut dipasang papan informasi pembangunan, sehingga jelas kegiatannya, tujuannya, nilai dan sumber pembiayaan pembiayaan proyek tersebut.
Sumber : Humas Pemkot Bogor

Bogor - Komunitas Gerakan Tanam Pohon (GTP) melakukan aksi menanam pohon di halaman Kantor RRI Bogor, yang berada di Jalan Pangrango No.34 Kota Bogor, Sabtu (30/7). Dalam kesempatan tersebut, RRI sebagai tuan rumah mengajak kepada penggiat GTP untuk berdialog membahas pentingnya menjaga lingkungan di Kota Bogor.

Inisiator GTP yang juga menjabat Wakil Ketua DPRD Kota Bogor, Heri Cahyono mengatakan, kegiatan yang dilakukan GTP itu merupakan suatu gerakan untuk memotivasi masyarakat Kota Bogor agar peduli terhadap lingkungannya. Jadi, gerakan itu mendorong supaya masyarakat sadar akan pentingnya menanam pohon. “ Kita tanam bersama-sama untuk menumbuhkan rasa kebersamaan, sekaligus mengajak masyarakat supaya mereka mengikuti dan menanam pohon dirumahnya masing-masing,” kata Heri disela - sela kegiatan  menanam pohon di RRI Bogor.
Kepala RRI Bogor, Arneti Rahimi sangat mengapresiasi dan mendukung program GTP, karena  dengan menanam pohon maka lingkungan Kota Bogor akan menjadi sejuk dan juga bisa meminimalisir terjadinya bencana. “Saya senang dan mendukung gerakan tanam pohon ini. kedepan kita akan selalu dukung, serta membantu menginformasikan kegiatan GTP melalui siaran Radio RRI,” pungkasnya.
 

Jakarta – Hasil evaluasi reformasi birokrasi yang dilakukan oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) sejak tahun 2014 merupakan salah satu parameter dalam pemberian tunjangan kinerja (Tukin) bagi pegawai Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kementerian/Lembaga. Namun hal itu tidak diperuntukkan bagi tiga K/L yang dijadikan pilot project reformasi birokrasi pada tahun 2008. Ketiga K/L dimaksud adalah Kementerian Keuangan, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan Mahkamah Agung (MA), yang sudah mendapatkan Tukin 100 persen. “Selain tiga instansi tersebut, saat ini belum ada kementerian/lembaga yang memperoleh Tukin 100 persen,” ujar Sekretaris Kedeputian Reformasi Birokrasi, Akuntabilitas Aparatur dan Pengawasan (RB Kunwas) Didit Noordiatmoko, di ruang kerjanya, Jumat (21/07).

Dijelaskan, besaran Tukin di Kementerian keuangan menjadi patokan bagi K/L lain. Ada yang baru menerima 47%, 60%, 70% dan 80 %. Kalau ada K/L yang indeks reformasi birokrasinya mengalami peningkatan, bisa saja mengajukan usulan kenaikan Tukin ke Kementerian PANRB. Meskipun demikian, keputusan naik-tidaknya Tukin suatu instansi pemerintah sangat tergantung kemampuan keuangan negara. Didit menambahkan, hingga saat ini Kementerian PANRB masih fokus pada refomasi birokrasi K/L, meskipun evaluasi juga dilakukan terhadap 34 provinsi dan 59 kabupaten/kota. Untuk pemda, pengaturan mengenai tunjangan kinerja tergantung kemampuan masing-masing daerah, tidak semata-mata berdasarkan indeks reformasi birokrasi. “Kalau memang anggarannya mencukupi, bisa saja mereka memberikan atau menaikkan Tukin,” imbuhnya seraya menambahkan agar pemda mempertimbangkan hasil evaluasi.

Ada dua aspek yang menjadi parameter dalam evaluasi reformasi birokrasi, yakni delapan area perubahan reformasi birokrasi, yakni Mental Aparatur, Pengawasan, Akuntabilitas, Kelembagaan, Tatalaksana, SDM Aparatur, Peraturan Perundang-Undangan, dan Pelayanan Publik. Pada kelompok ini, diberikan bobot penilaian sebesar 60 persen.

Komponen penilaian kedua adalah dari survei yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistisk (BPS) yang bekerjasama dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Selain itu, ada survei indeks reformasi birokrasi yang dilakukan oleh pihak ketiga yang bersifat independen. Survei ini untuk mengetahui persepsi masyarakat terhadap reformasi birokrasi di suatu instansi pemerintah. Bobot penilaian untuk komponen kedua ini sebesar 40 persen. Didit enjelaskana, pihaknya kini tengah menyusun perubahan Peraturan menteri PANRB No. 14/2014 tentang Pedoman Evaluasi Reformasi Birokrasi Instansi Pemerintah. Perubahan itu lebih diarahkan untuk meningkatkan kualitas reformasi birokrasi. “Kalau selama ini baru sebatas melaksanakan e-formasi, ke depan e-formasinya harus sudah benar,” ujar Didit memberikan contoh. Lebih lanjut dikatakan, kedepan penilaian akan dilakukan berdasarkan Indeks Kinerja Utama (IKU), baik IKU organisasi, IKU unit kerja hingga IKU individu. Dengan demikian PNS yang  kinerjanya rendah maka tunjangannya juga rendah. 

Sumber : HumasPANRB

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL