23 April 2019

RSS Facebook Twitter

Yofri Haryadi

Yofri Haryadi

Bogor :  Bogor :Badan Pengawas Obat dan Makanan RI , mengungkap produksi minuman jamu dengan merek dagang Tawon Klencheng yang di palsukan di Kampung Jampang RT 1RW 5 Desa Jampang Kecamatan kemang Kabupaten Bogor Selasa (02/02/2016). Bangunan yang semula di pergunakan sebagai gudang dan tempat pengolahan kayu tersebut selama 3 bulan kebelakang ternyata di jadikan tempat memproduksi jamu botolan dan sachet yang tidak higienis. Dengan peralatan yang di gunakan jauh dari standar kesehatan dan ramuan berbahaya di antaranya fenylbutosan dan Syldenafid yang di ketahui adalah jenis obat khusus yang di gunakan untuk penghilang rasa sakit. Serbuk campuran senilai 45 juta rupiah per 50 kilogramnya itu menjadi campuran jamu penghilang rasa lelah dan penambah tenaga.

Kepala Pusat Penyelidikan Obat dan makanan Badan Pengawas Obat dan Makanan RI Hendy Siswandi menjelaskan janis jamu kemasan yang di jual tersebut jika di konsumsi secara berlebih dapat menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan. Dan aturan dalam produksi jamu tradisional tidak di perbolehkan menggunakan campuran kimia sintesis seperti fenylbutosan dan Syldenafid. Dan B POM RI akan terus melakukan penutupan pabrik yang memproduksi makanan dan minuman serta jamu yang tidak memenuhi standar dan berbahaya. "jadi tugas kita adalah menutup pabrik dan menarik produknya kita memutus dari hulunya karena dari hulu inilah peredaran jamu yang tidak layak konsumsi dapat di berantas habis ".Jelas Hendy Siswandi, Selasa (2/02).  BPOM RI hanya akan menindak pada tingkat hulu saja sementara untuk tingkat hilir mulai dari distributor dan pengecer kewenangan di berikan kepada Dinas Perindustrian dan Perdaganagan serta POM Kes di bawah Dinas kesehatan setempat. 
Rumah produksi yang berdiri di atas areal 5 ribu meter persegi tersebut mempekerjakan 50 karyawan dari luar pulau dengan  kapasitas produksi 6000 botol perhari lebih dan 4000 sachet pruduk jamu dengan merek dagang Wanthong, Putri Sakti, Madu klenceng dan mahkota dewa yang di palsukan. Alamat produksi yang tertera adalah Banyuwangi jawa Timur sementara kode TR yang di gunakan juga palsu. BPOM RI sendiri masih melacak jalur masuknya bahan produksi berupa fenylbutosan dan Syldenafid yang di impor dari Cina tanpa ada pita cukai dan stempel Kemenkes RI. Ribuan Botol jamu dan kemasan sachet  akhirnya di angkut menggunakan truk sebagai barang bukti untuk di musnahkan, termasuk James selaku pemilik tempat usaha di maksud yang akan mempertanggung jawabkan perbuatannya di mata hukum.

Bogor : Peredaran obat obatan medis dengan strip merah ( Daftar G) yang di jual bebas di toko obat Sasaka 2 di jalan Raya Bogor – Sukabumi Desa Cisempur Kecamatan Caringin Kabupaten Bogor akan di tindak oleh Seksi Pengawas Obat dan Makanan Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor. Berdasarkan laporan yang ada penjualan obat jenis psikotropika yang di jual itupun  mengandung zat penenang masuk dalam daftar G dan tidak di jual bebas. Jenis obat tersebut antara lain Eximer , Hex Alfazolam , Dumolid dan Rikona yang memberi efek halusinasi serta lemasnya syaraf otak. Obat yang biasa di beli oleh penderita parkinson itupun di konsumsi bebas oleh remaja dan pelajar tanpa ada resep dokter.
Kepala Seksi Pengawas Obat dan Makanan Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor Runny Pulungan mengatakan kewenangan pihaknya hanya sebatas pada pembinaan. Sementara pendindakan kepada penjual dan distributor yang menjual obat strip merah dan masuk daftar G tanpa resep hanya bisa di tindak oleh Badan POM di Propinsi atau jika ada temuan pelanggaran Hukum maka menjadi ranah penegak hukum. "Tugas kita hanya pembnaan kalau penindakan itu dari badan POM Jawa Barat di daerah kita sebatas kepanjangan tangan saja yang jelas nanti akan kita binda dan jika di temukan adanya pelanggaran hukum maka pihak kepolisian atau kejaksaan yang mengambil langkah hukumnya ". Jelas Runny, Rabu (27/01/2015)
Menyikapi beredarnya obat psikotropika yang di jual bebas di Kecamatan Caringin dengan konsumen terbanyaknya pelajar itupun masih di dalami Kasat Intel Polres Bogor AKP Agustinus Manurung. "Laporan sudah kita terima anggota kita sudah menuju ke lokasi". Tambah  Agustinus. Sementara dari pihak guru dari SMP Negeri 1 Caringin Pitrof menginginkan agar toko penjual obat di Desa Cisempur Kecamatan Caringin itupun di tutup karena tidak ada izin untuk menjual obat dari Dinas Kesehatan. Obat berjenis eximer, Hex Alfazolam , Dumolid dan Rikona masuk dalam jenis obat penenang yang menimbulkan efek seperti halnya mengkonsumsi Narkoba. Jika pergunakan dalam jumlah yang banyak menimbulkan efek ketagihan.

Bogor :Ratusan anggota LSM Reformasi dan Keadilan (Korek), Kabupaten Bogor kembali memblokade akses jalan bagi truk sampah dari Kota maupun Kabupaten Bogor yang hendak melintas menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Galuga, Kecamatan Cibungbulang. Mereka menolak perpanjangan sewa TPA Galuga oleh Pemkot Bogor, yang habis akhir Desember 2015 lalu. "Kami minta penuhi dulu keputusan Pengadilan Negeri Cibinong, 2005 silam," ujar Ucok Teger Bangun saat berorasi di Jalan Raya Dramaga, Kabupaten Bogor, Senin (25/1/2016).
Menurutnya, berdasarkan Putusan Pengadilan Cibinong No 63/PDT/G/2002/PN.Cbn bahwa PN Cibinong sejak 2005 silam melarang TPA Galuga digunakan. "Sudah berjalan 11 tahun Pemkab kota/kabupaten Bogor tidak mematuhi atau melanggar hukum dalam putusan pengadilan. Dengan demikian, pembuangan sampah di TPA Galuga saat ini ilegal atau liar karenanya arus ditutup. sebab, warga yang tinggal disepanjang jalur yang dilintasi truk-truk sampah semakin resah dengan pencemaran lingkungan. Terlebih kondisi lalu lintas Jalan Raya Bogor-Cibungbulang kini semakin padat. Kemacetan terjadi hampir di setiap waktu. "Sebab itu, LSM Korek meminta rencana perpanjangan sewa TPA dihentikan sementara," ujarnya.
Pantauan di lapangan, tidak nampak terlihat satu pun armada sampah milik Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) dari Kota maupun Kabupaten Bogor melintas di ruas Jalan Raya Dramaga-Cibungbulang. Biasanya, hampir setiap waktu truk berwarna kuning ini melintas untuk membuang sampah ke TPA Galuga.

Bogor : Mulai Januari 2016, Kementerian Agama mulai menggunakan buka akta nikah terbaru yang bertanda tangan Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifudin (LHS) itu artinya buku akta nikah lama yang bertanda tangan Menag SDA akan ditarik peredarannya dari KUA-KUA yang ada di Kabupaten Bogor. Kepala Kemenag Kabupaten Bogor H. Suhendra mengatakan, sejak ada surat edaran dari Kemenag RI mengenai penggunaan buku akta nikah baru maka Kemenag Kab Bogor langsung menarik buku nikah lama.  “Karena mulai 1 Januari 2016, buku akta nikah baru sudah harus mulai digunakan penggunaanya,” kata Suhendra. Mengingat, tambah dia, jumlah pernikahan di Kabupaten Bogor cukup tinggi karena angka jumlah penduduk Kabupaten Bogor juga tinggi. “Sesuai intruksi langsung kita gunakan dan didistribusikan ke 40 KUA yang ada di Kabupaten Bogor,” tandasnya.
Sementara itu, Kepala Seksi Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah (Urais dan Binsyar) H. Bahrul Ulum mengungkapkan, pihaknya langsung menindaklanjuti surat edaran Dirjen Bimas Islam bernomor :DJ.II/HM.01/2572/2015 tentang pengunaan buku akta nikah baru. “Kita pun diperintahkan membuat penetapan alokasi pendistribusian buku akta nikah baru tersebut,” kata Bahrul. Bukan hanya itu, lanjut dia, pihaknya juga mengintsrusikan pada setiap layanan pencatatan nikah per 1 januari 2016 agar menggunakan buku akta nikah yang baru. “Jadi, bukunya yang sudah bertanda tangan Menag LHS,” tegasnya. Untuk buku nikah yang lama, maka imbuh dia, pihaknya akan menarik dan mengumpulkannya lalu akan disetor kembali ke Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Barat. “Akan kita rekap dan kita kembalikan ke Bandung,” pungkasnya.
JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL