22 November 2017

RSS Facebook Twitter

Kamis, 11 Oktober 2012 10:02

IPB Desak Pemerintah Lakukan Uji Arsenic Pada Areal Pertanian Lokal

Ditulis oleh 
Beritakan rating pada item ini
(3 voting)

 

Kawasan pertanian di bagian barat Kabupaten Bogor dalam kondisi kritis terutama areal pertanian warga yang berada di kawasan Tempat Pembuangan Sampah (TPS) di Kecamatan Cibungbulang hingga areal pertanian di sepanjang aliran sungai Cikaniki yang tercemar akibat limbah mercury penambangan emas tanpa izin (red: PETI). Salah satu dampaknya adalah tingginya kadar Arsenic pada hasil pertanian, khususnya beras yang merupakan sumber karbohidrat utama masyarakat Indonesia.

 

Setelah sempat beredar beras mengandung bahan pemutih atau klorin di pasaran, kini masyarakat kembali di resahkan dengan masuknya beras Impor asal Amerika dan Thailand dengan kadar arsenik atau kimia berbahaya.

Lemahnya pengawasan pemerintah terhadap peredaran beras di pasaran harus menjadi perhatian serius dengan cara membentuk Tim khusus untuk mensertivikasi kadar beras yang beredar. 

 

Peneliti dan Pengembang Teknologi Pangan IPB , Dr. Yadi Haryadi menjelaskan harus ada penguatan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan untuk meminimalisir peredaran beras dengan kadar arsenik di luar ambang batas normal.

"Pemerintah harus mengambil peranan melalui Badan POM untuk membuat standarisasi peredaran beras di pasaran, tidak hanya zat arsenic saja akan tetapi zat kimia berbahaya lainnya yang berasal dari penggunaan pupuk dan pestisida kimia," ujarnya dalam dialog pertanian di kampus IPB Dramaga Bogor, Rabu (10/10).

"Arsenic merupakan zat kimia yang di bawa oleh beras sejak dalam proses penanaman hingga pengolahan menjadi bulir-bulir yang kita temui dan itu terjadi simultan akibat  pencemaran limbah kimia pada lahan persawahan," ungkapnya.

Kadar arsenic pada beras yang di bolehkan adalah 0.5 miligram per kilogram, namun saat di lakukan penelitian di Lab IPB, rata-rata beras yang beredar di pasaran berada di atas ambang batas dan harus segera di ambil langkah.

Konsumsi Arsenic berlebih dalam kurun waktu tertentu menjadi penyebab penyakit kanker dan gangguan pencernaan.  Beras dengan kadar arsenic hanya bisa di lihat melalui mikroskop dan uji laboratorium.

 

"Untuk orang yang beratnya 60 kg , maksimal mengkonsumsi  maksimal 0,12 miligram perhari kalo lebih dari itu selama seumur hidup menjadi penyebab kanker," pungkasnya kepada RRI.

Tersiar kabar bahwa beras impor asal Thailand diduga mengandung arsenik yang bisa membahayakan tubuh.

Arsenik yang terkandung dalam beras merupakan hasil dari proses alamiah yang menyebabkan elemen racun tersebut terakumulasi mulai saat beras tersebut ditanam hingga tumbuh. Kadarnya tidak bisa di kurangi hanya dengan mencucinya hingga bersih.

Untuk itu IPB melalui riset dan peneliti yang di terjunkan mendesak pemerintah segera membuat sampling dan mengeluarkan standarisasi bagi komoditas pangan utama tersebut(yofri)

Dibaca 143186 Kali